Jumat, 19 Juli 2013

Merenung

Akhirnya akan tiba suatu masa
ketika retorika tak lagi berjaya.
ketika kata tak lagi di percaya.
ketika rasa percaya mulai tiada
ketika propaganda media menjadi senjata konspirasinya..
Terlihat sudah tujuan nya..

Tanpa mendengar kita bisa melihat..
Tanpa melihat kita bisa merasa..
karena itulah tuhan menciptakan "RASA"

#merenung sejenak

Rabu, 17 Juli 2013

Puisi Hati

Embun tipis perlahan turun, mendekap perlahan.. di sana ku berdiskusi dengan alam yg lirih..#semeru

Alampun berkata, "manusia hanya mendekap tiada rasa" tanpa rasa apa artinya cinta? hanya hirauan akan sisa manusia...ranukumbolo betapa malangnya engkau ..#semeru

Ranjau-ranjau terpasang tanpa dosa. hutan rumput menyaru dengannya.. hanya aroma tak bersatu bersamanya #semeru

kaki-kaki pemuda  beradu dalam lelah
seakan memiliki mata. menghindari ranjau di muka..#semeru

Ketika orang malam membicarakan siang, kita berbeda dalam hidup namun sama dalam cinta.. #semeru



ranukumbolo, 4 Juli 2013


Rabu, 06 Juni 2012

PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK RUMINANSIA UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN




Oleh
Imam Aditya Putra
0911311007

A. Penanganan Limbah Ternak

          Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies, jumlah ternak, tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk penanganan limbah dan target penggunaan limbah.  Penanganan limbah padat dapat diolah menjadi kompos, yaitu dengan menyimpan atau menumpuknya, kemudian diaduk-aduk atau dibalik-balik.  Perlakuan pembalikan ini akan mempercepat proses pematangan serta dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Setelah itu dilakukan pengeringan untuk beberapa waktu sampai kira-kira terlihat kering.
          Penanganan limbah cair dapat diolah secara fisik, kimia dan biologi.  Pengolahan secara fisik disebut juga pengolahan primer (primer treatment). Proses ini merupakan proses termurah dan termudah, karena tidak memerlukan biaya operasi yang tinggi.  Metode ini hanya digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah.  Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain : floatasi, sedimentasi, dan filtrasi. 
          Pengolahan secara kimia disebut juga pengolahan sekunder (secondary treatment) yang bisanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan proses pengolahan secara fisik.  Metode ini umumnya digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat.  Pengolahan dengan cara ini meliputi proses-proses netralisasi, flokulasi, koagulasi, dan ekstrasi.
          Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan sekunder bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair.  Limbah yang hanya mengandung bahan organik saja dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, dapat langsung digunakan atau didahului denghan pengolahan secara fisik (Sugiharto, 1987).
          Beberapa cara penanganan limbah ternak sudah diterapkan (Chung, 1988) di antaranya :
·  Solid Liquid Separator.  Pada cara ini penurunan BOD dan SS masing-masing sebesar 15-30% dan 40-60%.  Limbah padat setelah separasi masih memiliki kandungan air 70-80%.  Normalnya, kompos mempunyai kandungan uap air yang kurang dari 65%, sehingga jerami atau sekam padi dapat ditambahkan.  Setelah 40-60 hari, kompos telah terfermentasi dan lebih stabil.
· Red Mud Plastic Separator (RMP).  RMP adalah PVC yang diisi dengan limbah lumpur merah (Red Mud) dari industri aluminium.  RMP tahan pada erosi oleh asam, alkalis atau larutan garam.  Satu laporan mengklaim bahwa material RMP dengan tebal 1,2 mm dapat digunakan sekitar 20 tahun.  Bila limbah hog dipisahkan dengan menggunakan separator liquid, bagian cair akan mengalir ke dalam digester anaerobik pada kantong RMP.  Pada suatu seri percobaan di Lembaga Penelitian Ternak Taiwan, didapatkan bahwa ukuran optimum kantong dihitung dengan mengalikan jumlah hogs dengan 0,5 m3.  Pada suhu ambien di Taiwan, jika waktu penyimpanan hidrolik selama 12 hari, BOD biasanya turun menjadi 70-85% dan kandungan SS menjadi 80-90%.
· Aerobic Treatment.  Perlakuan limbah hog pada separator liquid-solid dan RMP bag digestor biasanya cukup untuk menemukan standart sanitasi.  Jika tidak, aliran (effluent) selanjutnya dilakukan secara aerobik.  Perlakuan aerobik meliputi aktivasi sludge, parit oksidasi, dan kolam aerobik.  Rata-rata BOD dan SS dari effluent setelah perlakuan adalah sekitar 200-800 ppm.  Setelah perlakuan aerobik, BOD dan SS akan turun pada level standar yang memenuhi standart dari kumpulan air limbah oleh aturan pencegahan polusi air.  BOD maksimum air limbah dari suatu peternakan besar dengan lebih dari 1000 ekor babi adalah 200 ppm, sedangkan untuk peternakan kecil BOD yang diijinkan 400 ppm.

B. Pemanfaatan Limbah Ternak

          Berbagai manfaat dapat dipetik dari limbah ternak, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk dimanfaatkan.  Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).  Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik, energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002). 


C. Limbah Ternak Sebagai Bahan Pakan dan Media Tumbuh

          Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya.  Ternak membutuhkan sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat.  Limbah feses mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk ternak.  Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak memerlukan pengolahan lebih lanjut.  Tinja ruminansia juga telah banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang difermentasi secara anaerob (Prior et al., 1986).
          Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti  menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).

D. Limbah Ternak Sebagai Penghasil Gasbio

          Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi.  Salah satu bentuk pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio.  Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biogas.  Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi.  Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai kandungan selulosa yang cukup tinggi.  Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73% P, dan 0.68% K (Lingaiah dan Rajasekaran, 1986).
          Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora, 1989).  Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3, untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3.  Menurut Maramba (1978) produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang berjumlah lima orang per hari. 
          Bahan gasbio dapat diperoleh dari limbah pertanian yang basah, kotoran hewan (manure), kotoran manusia dan campurannya.  Kotoran hewan seperti kerbau, sapi, babi dan ayam telah diteliti untuk diproses dalam alat penghasil gasbio dan hasil yang diperoleh memuaskan (Harahap et al., 1980).  Perbandingan kisaran komposisi gas dalam gasbio antara kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian dapat dilihat pada Tabel 1.

 Tabel 1.  Komposisi gas dalam gasbio (%) antara kotoran sapi dan campuran
                kotoran ternak dengan sisa pertanian.

Jenis gas
Kotoran sapi
Campuran kotoran ternak dan sisa pertanian
Metan (CH4)
Karbondioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Karbonmonoksida (CO)
Oksigen (O2)
Propen (C3H8)
Hidrogen sulfida (H2S)
Nilai kalor (kkal/m3)
65.7
27.0
2.3
0.0
0.1
0.7
tidak terukur
6513
54-70
45-27
0.5-3.0
0.1
6.0
-
sedikit sekali
4800-6700
Sumber : Harahap et al. (1978).

          Pembentukan gasbio dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik.  Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer.  Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam.  Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amoniak.  Sedangkan pada tahap metanogenik adalah proses pembentukan gas metan. 

Sedangkan bakteri-bakteri anaerob yang berperan dalam ketiga fase di atas terdiri dari :
1.                            Bakteri pembentuk asam (Acidogenic bacteria) yang merombak senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu berupa asam organik, CO2, H2, H2S.
2.                            Bakteri pembentuk asetat (Acetogenic bacteria) yang merubah asam organik, dan senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen. Bakteri penghasil metan (metanogens), yang berperan dalam merubah asam-asam lemak dan alkohol menjadi metan dan karbondioksida.  Bakteri pembentuk metan antara lain Methanococcus, Methanobacterium, dan Methanosarcina.

E. Limbah Ternak Sebagai Pupuk Organik

          Di negara China tidak jarang dapat dilihat pembuangan limbah peternakan disatukan penampungannya dengan limbah manusia, untuk kemudian dijadikan pupuk organik tanaman hortikultura.  Selain itu ada juga yang mencampurnya dengan lumpur selokan, untuk kemudian digunakan sebagai pupuk.  Sebanyak 8-10 kg tinja yang dihasilkan oleh seekor sapi per hari dapat menghasilkan pupuk organik atau kompos 4-5 kg per hari (Haryanto, 2000 dalam www.bangnak.ditjennak.go.id).
          Farida (2000) mengungkapkan bahwa produksi kokon tertinggi diperoleh dari pemanfaatan 50 % limbah feces sapi yang dicampur dengan 50% limbah organik rumah tangga, yang bermanfaat untuk dijadikan pupuk organik.

F.Manfaat Limbah Ternak Lainnya

          Di India dengan adanya tinja sapi sebanyak 5 kg perekor dan kerbau 15 kg perekor, oleh pemerintah India disarankan untuk dihasilkannya dung cake (briket) secara massal sebagai sumber energi (Jha, 2002).  Dilaporkan dari percobaan Basak and Lee (2001) bahwa tinja sapi yang segar pada perbandingan 1:2 mampu mengendalikan (100%) patogen cendawan akar mentimun (Cucumis sativus L.) dari serangan root rot oleh Fusarium solani f.sp. cucurbitae Synder and Hansen, dan layu oleh Fusarium oxysporum f.sp. cucumerinum Owen. Tinja sapi kemungkinan memiliki mekanisme pertahanan dan memberikan perlindungan pada bagian leher tanaman.

Kesimpulan

  1. Ekskreta ternak ruminansia berpeluang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Namun memperhatikan komposisinya, ekskreta masih dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan pakan, pupuk organik,  gas bio, dan briket energi.
  2. Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan (air, tanah, udara).











Pustaka

Farida E.  2000.  Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eisenia foetida savigry.  Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak.  IPB, Bogor.

Harahap F M, Apandi dan Ginting S. 1978.  Teknologi Gasbio.  Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Hardjoutomo S. 1999. Tuberkulosis sapi dan peranannya bagi peternakan sapi di Indonesia dalam Journal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 18 (2) http://pustaka.bogor.net/publ/jp3/html/jp182994.htm – (dikunjungi 6 Maret 2003).

  
Sihombing D T H. 2000.  Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha Peternakan.  Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor.

Simamora S.  1989.  Pengelolaan Limbah Peternakan (Animal Waste Management).  Teknologi Energi Gasbio.  Fakultas Politeknik Pertanian IPB.  Bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.  Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen P dan K.

Soeharsono, 2002.  Anthrax sporadik, tak perlu panik. Dalam kompas, 12 September 2002, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/12/iptek/anth29.htm (dikunjungi 6 Maret 2003).

Suryahadi, Nugraha A R, Bey A, dan Boer R.  2000.  Laju konversimetan dan faktor emisi metan pada kerbau yang diberi ragi tape lokal yang berbeda kadarnya yang mengandung Saccharomyces cerevisiaeRingkasan Seminar Program Pascasarjana IPB.

Wibowomoekti P S.  1997.  Kandungan Salmonella spp. dari limbah cair Rumah Pemotongan Hewan (Studi Kasus RPH Cakung, Jakarta).  Tesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

ORGAN GENITALIA PADA KUDA, SAPI, DOMBA, BABI


ovarium
Ovarium Kuda
Kuda mempunyai 2 buah ovaria berbentuk kacang dengan ukuran jauh lebih kecil daripada testis hewan jantan. Ovarium mempunyai facies medialis dan facies lateralis. Ovarium mempunyai 2 ekstremitas, yaitu ext tubaria dan ext uterina. Jarak antara ovarium dan mulut vulva 50-55 cm.
Ovarium ruminantia
Ovarium sapi lebih kecil daripada kuda. Dan ovarium kanan biasanya lebih besar daripada yang kiri. Berbentuk oval, tidak mempunyai fossa ovarii. Terletak 40-45 cm dari pintu vulva sebelah luar. Apabila ada corpus luteum, maka lataknya superfisial, sehingga menonjol dan dapat dilihat dari permukaan luar. Corpus luteum berwarana kuning coklat.
Ovarium babi
Ovarium babi terdapat bursa ovarii, yang terbentuk dari penjuluran mesosalpinx. Berbentuk bulat dan mempunyai hilus yang jelas.


Ovarium kambing                                                                                                                              
Pada semua hewan menyusui ovarium terdapat sepasang di dekat ginjal dimana gonad berada.bagian ovarium yang terbuka ,artinya tdk melekat pada ligamentum penggantungnya,menghadap abdomen.
Ukuran ovarium tergantung dari umur dan masa reproduksi hewan betina,pada hewan betina yang sudah beranak, ovariumnya bisa dua kali besarnya betina dewasa
Uterus

Uterus Sapi
Uterus sapi terdapat sebagian besar di ruang abdomen. Corpus uterinya sangat pendek (3-4 cm), tetapi mempunyai cornua uteri yang panjang (30-40 cm). Tidak seperti pada kuda extremitas abdominalis dari cornua uteri sapi berbentuk corong dan berhubungan dengan tuba uterina.

Uterus Babi
Corpus uteri babi sangat pendek (5cm), tetapi cornua uterinya sangat panjang (1,2-1,5 m), sangat berkelok-kelok dan mudah bergerak di dalam ruang abdomen, sehingga bisa dikelirukan dengan usus halus, cervix uterinya mempunyai panjang 10cm.

Uterus kuda
Pada kuda, sebagian besar ada di dalam cavum abdominal dan sisanya di ruang cavum pelvis . Sementara pada sapi, babi, dan anjing ada dalam cavum abdominalis.
Uterus domba
Vagina
Vagina kuda
Vagina terletak horisontal di ruang pelvis, dimulai dari cervix uteri sampai vulva. Berbentuk tubulus sepanjang 15-20cm, dengan diameter 10-12 cm apabila diregang. Di bagian cranial dari vagina terdapat fornix vaginae yang merupakan kantong yang dibentuk oleh portio vaginalis uteri. Di bagian caudal vagina berhubungan dengan vulva.

Vagina sapi
Vagina sapi lebih panjang daripada kuda, juga dindignnya lebih tebal. Panjangnya 20-35 cm. Di dinding ventral, diantara tunika muscularis dan selaput lendir terdapat 2 buah saluran Gartner yang bermuara di posterior orificium urethrae externum. Saluran Gartner adalah sisa embrional dari ductus Wolfii.

Placenta
Placenta terdiri dari dua bagian, yaitu placenta foetalis atau allantochorion dan placenta maternalis atau endometrium. Selama beberapa minggu pada permulaan periode embrio kantung kuning telur dan chorion amniotik berfungsi sebagai placenta primitif.
Sapi dan kerbau mempunyai placenta tipe kotiledoner atau tipe multifleks. Pada tipe ini hanya sebagian placenta maternal atau karunkulae endometrial, dan sebgaina allantochorion atau kotiledon yang terletak berhimpitan satu samalain untuk membentuk placentoma mengambil bagian dari fungsi placenta. Karunkulae tersusun dalam 4 lajur, 2 ventral dan 2 dorsal.
Placenta difusa:
Villi tersebar merata pada seluruh permukaan luar dari khorion. Blastosis terletak memanjang di dalam rongga uterus. Plasenta semacam ini terdapat pada Babi, Kuda, dan hewan ungulata.
Glandula mammaria
Glandula mammaria (glandula lactifora) adalah kelenjar susu yang merupakan modifikasi dari kelenjar kulit. Pada masa embrional, disepanjang garis yang terpancang dari daerah thoracalis sampai pubis terdapat titik-titik yang akan menjadi papila mamae.
Pada pertumbuhan selanjutnya beberapa titik akan menghilang, sedang sisanya akan tumbuh dengan subur tergantung pada jenis hewannya. Kuda mempunyai sepasang papillae mammae yang terdapat di daerah propubicum. Sapi mempunyai 4 pasang, babi 5-6 pasang, kambing/domba mempunyai 2 pasang. Pada hewan jantan glandula mamaria tumbuh sebagai puting yang rudimenter.
Glandula mamaria terdiri dari corpus mammae dan papilla mammae. Kuda mempunyai 2 atau 3 ductuli lactiferi yang membentuk sphinter dalam sebuah papila mammae. Sapi mempunyai 1 ductus lactiferus. Babi mempunyai 2 ductuli lactiferi, sedang anjing mempunyai 6-12 ductuli lactiferi.


Oleh    :
 Imam aditya putra
0911311007
Pkh-UB

Senin, 04 Juni 2012

Feline Immunodeficiency Virus (FIV)

Pendahuluan
Kucing yang terinfeksi feline immunodeficiency virus (FIV) mungkin tidak menunjukkan gejala sampai tahun setelah infeksi awal terjadi. Walaupun virus ini bekerja lambat, sistem kekebalan tubuh kucing adalah sangat lemah setelah penyakit berlangsung. Hal ini membuat kucing rentan terhadap infeksi berbagai sekunder. Kucing yang terinfeksi yang menerima perawatan medis mendukung dan disimpan dalam lingkungan yang bebas stres, indoor dapat hidup relatif nyaman selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun sebelum penyakit kronis mencapai tahap tersebut.



Banyak orang bingung FIV dengan virus leukemia kucing (FeLV). Meskipun

penyakit ini dalam keluarga retrovirus yang sama dan menyebabkan berbagai kondisi sekunder yang serupa FeLV dan FIV adalah penyakit yang berbeda.

Etiologi

Virus penyebab AIDS pada kucing Feline Immunodeficiency Virus (FIV) termasuk dalam kelompok Lentivirus dan mempunyai single stranded RNA virus. Virus Feline Immunodeficiency (FIV) mempunyai sifat host spesific artinya adalah hanya menyerang pada kucing. FIV terdapat diseluruh dunia dan sekitar 1.5-3 % kucing di USA terinfeksi penyakit ini. Dan sekitar 5% kucing yang positif FIV juga menderita penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV).

Penularan
Feline Immunodeficiency Virus (FIV) terutama ditularkan melalui luka gigitan, sehingga kucing yang sering berkeliaran di luar rumah mempunyai resiko terkena FIV lebih tinggi dari pada kucing yang hidup di dalam rumah, begitu pula kucing jantan yang agresif dan sering berkelahi lebih mudah terinfeksi.Induk bunting yang terinfeksi juga dapat menulari anaknya pada saat masih di dalam rahim. Umur kucing yang terinfeksi FIV bervariasi tergantung kekebalan tubuh tiap individu. Lebih dari 50 % kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit sedikit pun selama beberapa tahun. Sekitar 20 % kucing yang terinfeksi FIV mati dalam waktu 2 tahun. Umumnya kucing mati dalam waktu 4-6 tahun setelah virus masuk dan menginfeksi tubuh.pada tempat makan,tempat minum ,tempat grooming umum tidak ditemukan adanya penularan lewat hal ini
Diagnosa
Selain dari gejala klinis diagnose FIV dapat dilakukan dengan melakukan tes darah, yaitu melihat antibody yang ada dalam darah. Namun test ini tak 100% akurat
           
Gejala klinis
  • Pembesaran limponodul
  • Demam
  • Anemia
  • Berat badan turun
  • Bulu rusuh
  • Nafsu makan berkurang
  • Diarrhea
  • Adanya abnormalitas pada conjuctivitas yg mengalami peradangan
  • Gingivitis  
  • Stomatitis   
  • Sakit gigi
  • Kulit kemerahan, bulu rontok
  • Apabila ada luka tak cepat sembuh
  • Bersin bersin
  • Sering buang air
  • Perubahan perilaku
            Pada stadium kronis biasanya terjadi infeksi gastrointestinal dan paru-paru.
Berat badan turun,anoreksia,demam yang berlangsung lama 40°C.

Apakah bisa disembuhkan ?
            Seperti juga HIV pada manusia, sampai saat ini belum ditemukan obat yang benar-benar efektif melawan FIV. Umur kucing yang terinfeksi FIV bervariasi tergantung kekebalan tubuh tiap individu. Lebih dari 50 % kucing yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit sedikit pun selama beberapa tahun. Sekitar 20 % kucing yang. terinfeksi FIV mati dalam waktu 2 tahun.umumnya kucing mati pada umur 4-5 tahun saat virus masuk dan menginfeksi tubuh. Karena tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini, seluruh tindakan bertujuan mencegah infeksi sekunder lain dan mencegah penyebaran penyakit. Kucing yang positif terinfeksi sebaiknya diisolasi dan jauhkan dari kucing lain.

Pencegahan
            Sampai saat ini vaksin Feline Immunodeficiency Virus (FIV) belum ditemukan.
Pemberian steroid anabolik kadang dapt diberikan untuk mencegah penurunan berat badan dan kelemahan.
Manajemen pemeliharan yang baik dapat ilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit ini, terutama untuk cattery. Karantina kucing yang baru masuk dan pemeriksaan adanya zat kebal terhadap Feline Immunodeficiency Virus (FIV). Untuk mengurangi sifat agresif kucing jantan dengan kebiri, kandangkan kucing di dalam rumah, jaga kebersihan dan kesehatan kucing dengan vaksinasi teratur dan nutrisi yang baik.treatmen lain yg dapat kita lakukan yaitu dengan:
·        Medikasi untuk infeksi sekunder
·        Diet sehat, cocok untuk mendorong gizi yang baik
·        Cairan dan terapi penggantian elektrolit
·        Anti-inflamantory drugs
·        Pengendalian parasit