Oleh
Imam Aditya
Putra
0911311007
A. Penanganan Limbah Ternak
Penanganan limbah ternak akan spesifik pada jenis/spesies, jumlah ternak,
tatalaksana pemeliharaan, areal tanah yang tersedia untuk penanganan limbah dan
target penggunaan limbah. Penanganan limbah padat dapat diolah
menjadi kompos, yaitu dengan menyimpan atau menumpuknya, kemudian diaduk-aduk
atau dibalik-balik. Perlakuan pembalikan ini akan mempercepat proses
pematangan serta dapat meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan. Setelah
itu dilakukan pengeringan untuk beberapa waktu sampai kira-kira terlihat
kering.
Penanganan limbah cair dapat diolah secara
fisik, kimia dan biologi. Pengolahan secara fisik disebut juga pengolahan
primer (primer treatment). Proses ini merupakan proses termurah dan
termudah, karena tidak memerlukan biaya operasi yang tinggi. Metode ini
hanya digunakan untuk memisahkan partikel-partikel padat di dalam limbah.
Beberapa kegiatan yang termasuk dalam pengolahan secara fisik antara lain :
floatasi, sedimentasi, dan filtrasi.
Pengolahan secara kimia disebut juga pengolahan sekunder (secondary
treatment) yang bisanya relatif lebih mahal dibandingkan dengan proses
pengolahan secara fisik. Metode ini umumnya digunakan untuk mengendapkan
bahan-bahan berbahaya yang terlarut dalam limbah cair menjadi padat.
Pengolahan dengan cara ini meliputi proses-proses netralisasi, flokulasi,
koagulasi, dan ekstrasi.
Pengolahan secara biologi merupakan tahap akhir dari pengolahan sekunder
bahan-bahan organik yang terkandung di dalam limbah cair. Limbah yang
hanya mengandung bahan organik saja dan tidak mengandung bahan kimia yang
berbahaya, dapat langsung digunakan atau didahului denghan pengolahan secara
fisik (Sugiharto, 1987).
Beberapa cara penanganan limbah ternak sudah diterapkan (Chung, 1988) di
antaranya :
· Solid Liquid
Separator. Pada cara ini penurunan BOD dan SS masing-masing sebesar
15-30% dan 40-60%. Limbah padat setelah separasi masih memiliki kandungan
air 70-80%. Normalnya, kompos mempunyai kandungan uap air yang kurang
dari 65%, sehingga jerami atau sekam padi dapat ditambahkan. Setelah
40-60 hari, kompos telah terfermentasi dan lebih stabil.
· Red Mud
Plastic Separator (RMP). RMP
adalah PVC yang diisi dengan limbah lumpur merah (Red Mud) dari industri
aluminium. RMP tahan pada erosi oleh asam, alkalis atau larutan
garam. Satu laporan mengklaim bahwa material RMP dengan tebal 1,2 mm
dapat digunakan sekitar 20 tahun. Bila limbah hog dipisahkan
dengan menggunakan separator liquid, bagian cair akan mengalir ke dalam
digester anaerobik pada kantong RMP. Pada suatu seri percobaan di Lembaga
Penelitian Ternak Taiwan, didapatkan bahwa ukuran optimum kantong dihitung
dengan mengalikan jumlah hogs dengan 0,5 m3. Pada suhu ambien di Taiwan,
jika waktu penyimpanan hidrolik selama 12 hari, BOD biasanya turun menjadi
70-85% dan kandungan SS menjadi 80-90%.
· Aerobic
Treatment. Perlakuan limbah hog pada separator liquid-solid dan RMP bag
digestor biasanya cukup untuk menemukan standart sanitasi. Jika tidak,
aliran (effluent) selanjutnya dilakukan secara aerobik. Perlakuan aerobik
meliputi aktivasi sludge, parit oksidasi, dan kolam aerobik. Rata-rata
BOD dan SS dari effluent setelah perlakuan adalah sekitar 200-800 ppm.
Setelah perlakuan aerobik, BOD dan SS akan turun pada level standar yang
memenuhi standart dari kumpulan air limbah oleh aturan pencegahan polusi
air. BOD maksimum air limbah dari suatu peternakan besar dengan lebih
dari 1000 ekor babi adalah 200 ppm, sedangkan untuk peternakan kecil BOD yang
diijinkan 400 ppm.
B. Pemanfaatan Limbah Ternak
Berbagai manfaat dapat dipetik
dari limbah ternak, apalagi limbah tersebut dapat diperbaharui (renewable)
selama ada ternak. Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang
potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient (zat makanan)
seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), vitamin, mineral,
mikroba atau biota, dan zat-zat yang lain (unidentified subtances).
Limbah ternak dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik,
energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002).
C. Limbah Ternak Sebagai Bahan Pakan dan Media Tumbuh
Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrien seperti protein, lemak
BETN, vitamin, mineral, mikroba dan zat lainnya. Ternak membutuhkan
sekitar 46 zat makanan esensial agar dapat hidup sehat. Limbah feses
mengandung 77 zat atau senyawa, namun didalamnya terdapat senyawa toksik untuk
ternak. Untuk itu pemanfaatan limbah ternak sebagai makanan ternak
memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tinja ruminansia juga telah banyak
diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang
difermentasi secara anaerob (Prior et al., 1986).
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti
menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah bahan
organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah organik
pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).
D. Limbah Ternak Sebagai Penghasil Gasbio
Permasalahan limbah ternak, khususnya manure dapat diatasi dengan memanfaatkan
menjadi bahan yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk
pengolahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai
bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar gasbio. Kotoran ternak
ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
biogas. Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus yang
menggunakan mikroorganisme dalam sistem pencernaannya yang berfungsi untuk
mencerna selulosa dan lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi.
Oleh karena itu pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai
kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil analisis
diperoleh bahwa tinja sapi mengandung 22.59% sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa,
10.20% lignin, 34.72% total karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio
C:N, 0.73% P, dan 0.68% K (Lingaiah dan Rajasekaran, 1986).
Gasbio adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan bakar gas yang merupakan
hasil fermentasi dari bahan organik dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan
adalah gas metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2) (Simamora, 1989).
Gasbio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m3,
untuk gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900 kkal/m3. Menurut
Maramba (1978) produksi gasbio sebanyak 1275-4318 I dapat digunakan untuk
memasak, penerangan, menyeterika dan mejalankan lemari es untuk keluarga yang
berjumlah lima orang per hari.
Bahan gasbio dapat diperoleh dari limbah pertanian yang basah, kotoran hewan
(manure), kotoran manusia dan campurannya. Kotoran hewan seperti kerbau,
sapi, babi dan ayam telah diteliti untuk diproses dalam alat penghasil gasbio
dan hasil yang diperoleh memuaskan (Harahap et al., 1980).
Perbandingan kisaran komposisi gas dalam gasbio antara kotoran sapi dan
campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi
gas dalam gasbio (%) antara kotoran sapi dan campuran
kotoran ternak dengan sisa pertanian.
Jenis gas
|
Kotoran
sapi
|
Campuran kotoran ternak dan sisa pertanian
|
Metan (CH4)
Karbondioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Karbonmonoksida (CO)
Oksigen (O2)
Propen (C3H8)
Hidrogen sulfida (H2S)
Nilai
kalor (kkal/m3)
|
65.7
27.0
2.3
0.0
0.1
0.7
tidak
terukur
6513
|
54-70
45-27
0.5-3.0
0.1
6.0
-
sedikit
sekali
4800-6700
|
Sumber :
Harahap et al. (1978).
Pembentukan gasbio dilakukan oleh mikroba pada situasi anaerob, yang meliputi
tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap
metanogenik. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik
mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana,
perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer. Pada tahap
pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap
hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk
akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat,
propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida,
hidrogen dan amoniak. Sedangkan pada tahap metanogenik adalah proses
pembentukan gas metan.
Sedangkan bakteri-bakteri anaerob
yang berperan dalam ketiga fase di atas terdiri dari :
1.
Bakteri pembentuk asam (Acidogenic bacteria) yang merombak senyawa organik
menjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu berupa asam organik, CO2, H2, H2S.
2.
Bakteri pembentuk asetat (Acetogenic bacteria) yang merubah asam organik, dan
senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen.
Bakteri penghasil metan (metanogens), yang berperan dalam merubah asam-asam
lemak dan alkohol menjadi metan dan karbondioksida. Bakteri pembentuk
metan antara lain Methanococcus, Methanobacterium, dan Methanosarcina.
E. Limbah Ternak Sebagai Pupuk Organik
Di negara China tidak jarang dapat dilihat pembuangan limbah peternakan
disatukan penampungannya dengan limbah manusia, untuk kemudian dijadikan pupuk
organik tanaman hortikultura. Selain itu ada juga yang mencampurnya
dengan lumpur selokan, untuk kemudian digunakan sebagai pupuk. Sebanyak
8-10 kg tinja yang dihasilkan oleh seekor sapi per hari dapat menghasilkan
pupuk organik atau kompos 4-5 kg per hari (Haryanto, 2000 dalam www.bangnak.ditjennak.go.id).
Farida (2000) mengungkapkan bahwa produksi kokon tertinggi diperoleh dari
pemanfaatan 50 % limbah feces sapi yang dicampur dengan 50% limbah organik
rumah tangga, yang bermanfaat untuk dijadikan pupuk organik.
F.Manfaat Limbah Ternak Lainnya
Di India dengan adanya tinja sapi sebanyak 5 kg perekor dan kerbau 15 kg
perekor, oleh pemerintah India disarankan untuk dihasilkannya dung cake
(briket) secara massal sebagai sumber energi (Jha, 2002). Dilaporkan dari
percobaan Basak and Lee (2001) bahwa tinja sapi yang segar pada perbandingan
1:2 mampu mengendalikan (100%) patogen cendawan akar mentimun (Cucumis
sativus L.) dari serangan root rot oleh Fusarium solani f.sp. cucurbitae
Synder and Hansen, dan layu oleh Fusarium oxysporum f.sp. cucumerinum
Owen. Tinja sapi kemungkinan memiliki mekanisme
pertahanan dan memberikan perlindungan pada bagian leher tanaman.
Kesimpulan
- Ekskreta ternak ruminansia berpeluang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan. Namun memperhatikan komposisinya, ekskreta masih dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan pakan, pupuk organik, gas bio, dan briket energi.
- Pemanfaatan limbah ternak akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan (air, tanah, udara).
Pustaka
Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses
Sapi dan Campuran Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau Media Produksi Kokon
dan Biomassa Cacing Tanah Eisenia foetida savigry. Skripsi Jurusan
Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. IPB, Bogor.
Harahap F M, Apandi dan Ginting S. 1978. Teknologi Gasbio. Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi
Bandung, Bandung.
Hardjoutomo S. 1999. Tuberkulosis
sapi dan peranannya bagi peternakan sapi di Indonesia dalam Journal Penelitian
dan Pengembangan Pertanian 18 (2) http://pustaka.bogor.net/publ/jp3/html/jp182994.htm – (dikunjungi 6 Maret 2003).
http://www.bangnak.ditjennak.go.id/bang-swt.htm. Pengembangan Usaha Kompos / Pupuk Organik. (dikunjungi 6 Maret 2003).
Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah
Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga
Penelitian, Institut Pertanian Bogor.
Simamora S. 1989.
Pengelolaan Limbah Peternakan (Animal Waste Management). Teknologi Energi Gasbio. Fakultas Politeknik Pertanian IPB.
Bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Dirjen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen P dan K.
Soeharsono, 2002. Anthrax
sporadik, tak perlu panik. Dalam kompas, 12 September 2002, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/12/iptek/anth29.htm (dikunjungi 6 Maret 2003).
Suryahadi, Nugraha A R, Bey A,
dan Boer R. 2000. Laju konversimetan dan faktor emisi metan pada
kerbau yang diberi ragi tape lokal yang berbeda kadarnya yang mengandung Saccharomyces
cerevisiae. Ringkasan
Seminar Program Pascasarjana IPB.
Wibowomoekti P S.
1997. Kandungan Salmonella spp. dari limbah cair Rumah Pemotongan
Hewan (Studi Kasus RPH Cakung, Jakarta). Tesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
